Saya yakin diantara Anda semua yang membaca artikel ini, sudah banyak yang pernah melakukan perjalanan wisata menikmati keindahan Danau Toba di Sumatera Utara sambil menyeberang ke Pulau Samosir, atau bergabung dengan club pecinta alam melakukan pendakian di Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat sambil menikmati pemandangan alam yang eksotis, atau mungkin bertualang dan diving ke Raja Ampat Papua Barat. Daerah-daerah tersebut memang menjadi salah satu destinasi utama di Indonesia bagi para pejalan, baik lokal mau asing. Bagi yang belum pernah, setidaknya acap kali wara-wiri di benak hingga terbawa mimpi, menjadi obsesi, masuk ke dalam daftar tempat-tempat yang harus dikunjungi, before you die.

Salah seorang kawan berkebangsaan Spanyol (berprofesi sebagai dokter spesialis mata) yang sangat  terobsesi untuk mengunjungi semua provinsi di Indonesia dan tempat-tempat wisata alamnya pernah mengatakan kepada saya, “Heaven on earth, no other but Nusantara. The beauty of your nature is beyond any other places in any other part of the world. You have the whole package of natures and geodiversity”. Walhasil, beberapa tahun terakhir setiap memasuki libur musim panas ia selalu mengirimkan pesan melalui email atau socmed, dan tahun ini berbunyi, “Halo apa kabar. As usual, Indonesia again this summer and as usual I won’t be able to meet you, because I have my flight ticket already to Sorong, all the way to Raja Ampat.” Back in 2010, destinasi pertamanya ke Indonesia adalah Kaldera Batur, Bali, salah satu situs Global Geopark di tahun, dan dari situ dia sangat impressed dan terobsesi dengan semua situs alam yang ada di Indonesia.

Beberapa dari Anda mungkin cukup familiar dengan kata geopark, namun saya yakin tidak banyak dari yang benar-benar paham, atau pernah membaca memperoleh yang detail tentang apa itu geopark. Karena itu saya ingin berbagi mengenai geopark ini, yang sebenarnya memiliki konsep yang berkorelasi kuat dengan sustainable development (khususnya sustainable tourism).

Geopark sendiri merupakan suatu kawasan yang memiliki unsur penyusun geologis yang kaya  (mineral batuan, fosil, struktur, bentang alam), termasuk juga dari sisi arkeologi, ekologi (flora, fauna, serta ekosistem)  dan budaya (berupa peninggalan manusia masa lalu dan masa kini) yang ada di dalamnya, dimana penduduk setempat menjadi aktor penting yang secara aktif berperan dalam melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

Pada prinsipnya, geopark mencakup suatu kawasan yang luasannya dapat menciptakan aktivitas ekonomi, khususnya melalui pariwisata. Dengan Dengan luasannya yang cukup, geopark mencakup sejumlah situs geologi (geosites) yang jika digabungkan akan menggambarkan suatu fitur geologi penting.

Sebagai suatu konsep, geopark dirancang untuk menemu-kenali dan menghubungkan kembali antara manusia dengan geologi, paleontologi, geomorfologi dan lingkungan. Geopark dirancang untuk dapat memberikan nilai edukasi, pelatihan dan pengembangan penilitian ilmiah dari berbagai disiplin ilmu (khususnya ilmu kebumian), disamping juga meningkatkan apresiasi manusia kepada lingkungan alam di sekitarnya dan kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Sedikit mengulas tentang ilmu kebumian untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita, ada sebuah faham baru (neologisme) pengetahuan kebumian menjabarkan tiga poin penting, yaitu geological diversity (geodiversity), geological heritage (geoheritage) dan geological conservation (geoconservation).

Geodiversity adalah suatu gambaran keragaman komponen geologi yang dapat mewakili proses evolusi geologi di suatu kawasan. Geodiversity menjadi kekayaan utama yang dimiliki daerah tersebut, yang mencakup unsur (mineral, batuan, sedimen, fosil, tanah, air), bentuk (lipatan, bentang alam), proses (tektonik, sedimentasi, pedogenesis).

Geoheritage sendiri merupakan penurunan dari geodiversity yang memiliki nilai yang lebih sebagai sebuah warisan, yaitu menjadi rekaman atas suatu peristiwa di bumi yang memiliki niai lebih sebagai sebuah warisan, yaitu menjadi rekaman atas suatu peristiwa di bumi yang pernah atau sedang terjadi, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk pendidikan dan penelitian. Geoheritage ini juga sebagai daerah spesifik yang telah diidentifikasi fungsinya sebagai penjamin manajemen konservasi. Geodiversity yang berpotensi untuk pariwisata atau kehadirannya berkaitan erat engan sejarah dan budaya juga dikategorikan sebagai sebuah warisan geologi.

Geoconservation dimaknai sebagai kegiatan yang terukur dan terencana terhadap perlindungan dan pelestarian suatu geoheritage dari kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Di Indonesia sendiri, Geoheritage yang dilindungi dan dilestarikan dipahami sebagai kawasan lindung geologi (KLG).

Geodiversity  sendiri diidentifikasikan menurut peringkat dari status rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi hingga terkemuka. Parameter yang digunakan untuk menentukan kirarki peringkat tersebut yaitu bentang alam (pegunungan, perbukitan, kepulauan, kars, gunung api, daratan), ranah batuan (beku, sedimen, blok tektonik, dll), proses internal (vulkanis, rifting, dll) maupun eksternal (benda jatuhan seperti meteorit, tektite, gerakan massa batuan/tanah, dll), tektonik (aktif/labil, tidak aktif/stabil), maupun evolusi temporer (umur geologi, derajat kematangan evolusi, dll).

Selain itu ada pula pemeringkatan geodiversity menurut manfaatnya dengan menggunakan parameter dasar geologis dan aspek lainnya seperti ilmiah, estetika, rekreasi dan budaya. Diakui, banyak geodiversity yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi obyek dan daya tarik wisata, selain berkaitan erat dengan sejarah dan budaya manusia.

Geodiversity suatu wilayah yang paling ideal jika mengandung rekaman ilmiah, tatanan geologi atau bentang alam spesifik, bermakna sebagai bukti atas peristiwa geologi penting, dan mempunyai fungsi ekologi yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, pemahaman alam dan budaya, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan yang dapat memicu pertumbuhan nilai ekonomi lokal dan nasional.

Hubungan erat struktur geologi juga banyak mempengaruhi kehidupan flora dan fauna yang kemudian menjadi salah satu pembentuk sifat endemiknya. Sebagai contoh, dilingkungan gua menjadi tempat yang sangat spresifik bagi pembentukan karakter endemis dengan sifat endemis tinggi. Baik flora maupun fauna yang bertahan di dalamnya menyesuaikan morfologi tubuhnya dan menjadi satu kesatuan harmonisasi rantai makanan di dalam gua.

Kita dapat pula memaknai geodiversity dari aspek yang dikandungnya, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible). Kita dapat mengidentifikasikan hal tersebut dengan melihat fenomena keterkaitan antara geologi dan manusia yang mungkin telah menghuni suatu kawasan tersebut sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, berinteraksi secara dinamis dengan lingkungan alam dan geologis sekitarnya. Pola interaksi tersebut dapat dilihat dari kacamata budaya, baik di masa lalu maupun masa kini, termasuk kearifan lokalnya.

Di Indonesia sendiri ada beberapa wilayah yang dapat dimasukkan ke dalam kluster geodiversity tinggi hingga terkemuka, misalnya saja Geodiversity Flora Merangin di Jambi dan GeoArea Wayag Kabupaten Raja Ampat Papua Barat. Contoh lain Geo Area Samosir – Danau Toba Sumatera Utara yang hasil penelitiannya menunjukkan fenomena gunung api purba yang pernah meletus dengan hebatnya beberapak kali di zaman prasejarah dan berdampak ke seluruh belahan bumi. Geo Area Gunung Rinjani Lombok, Nusa Tenggara Barat juga merupakan daerah geodiversity terkemuka yang menyuguhkan fenomena gunung api berdanau kaldera yang masih aktif.

UNESCO (Badan PBB yang berfokus pada bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan dan komunikasi) dan para ahli kebumian terkemuka dunia kemudian mendukung suatu gerakan jaringan geopark regional yang dimulai di wilayah eropa pada tahun 2000 hingga saat ini menjadi Global Geopark Network (GGN) yang beranggotakan 31 Negara dan tercatat 101 Geopark yang masuk dalam list Geopark Global, dengan tujuan melindungi nilai geodiversity, mempromosikan nilai warisan bumi kepada khalayak dan mendukung pengembangan ekonomi berkelanjutan di kawasan geopark melalui pengembangan pariwisata. Sasaran utamanya adalah konservasi lingkungan, pendidikan ilmu kebumian secara luas dan penumbuhan serta pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Dari Indonesia sendiri baru satu area yang masuk list Global Geopark Network yaitu Geopark Kaldera Batur Bali, pada tanggal 20 September 2012.

Pemerintah Indonesia sendiri telah membentuk Komite Nasional Geopark Indonesia yang bertugas untuk mengengembangkan potensi geopark di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, saat ini tengah dipandang sebagai urgensi adala pembentukan Keppres sebagai landasan hukum yang nantinya mengatur eksistensi geopark di Indonesia, termasuk nilai filosofis, sosiologis maupun kekuatan yuridisnya.

Yang saat ini masuk ke dalam dalam Geopark Nasional adalah Geopark Kaldera Batur Bali dan Geopark Pacitan (Jawa Timur). Sejumlah wilayah lain yang akan dikembangkan menjadi geopark nasional (untuk kemudian diajukan ke Global Geopark Network) adalah di provinsi Sumatera Utara (Geopark Toba), Jambi (Geopark Merangin), DIY-Jawa Tengah-Jawa Timur (Geopark Gunung Sewu, termasuk Geo-area Pacitan yang sudah ditetapkan menjadi Geopark Nasional Pacitan), Nusa Tenggara Barat (Geopark Lombok, termasuk Geo-area Rinjani, Geo-area Flores Barat, NTT, dan Papua Barat (Geopark Raja Ampat).

Dari sharing singkat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan geopark ini bukanlah sebatas konsep di atas kertas, sekedar hasil riset ilmiah dalam upaya memperoleh pengakuan atau penghargaan atas apapun itu dan dari badan/lembaga manapun. Lebih dari itu, bagaimana kita sebagai pejalan, khususnya saat menjelajahi negeri sendiri, tidak hanya memanfaatkan situs-situs berharga ini untuk sekedar dikunjungi, jalan-jalan atau refreshing saja, tapi lebih dari itu, juga mau mengenal dan mempelajari lebih mendalam, ikut serta dalam kegiatan konservasi, geoheritage  dan mendukung upaya promosi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Respect geotourism, be a smart traveler, and let’s travel with values! 

 

*Artikel oleh Edwin Leo Mokodompit, Blacktrailers destinasi Pulau Komodo

*Foto oleh Muchdlir Johar Zauhariy, Blacktrailers destinasi Tangkahan

Referensi :

Farsani, Neda, et al. Geoparks and Geotourism: New Approaches to Sustainability for the 21st Century. Brown Walker Press, Florida, 2011

Laman UNESCO Geopark: http://www.unesco.org/new/en/natural-sciences/environment/earth-sciences/global-geoparks/