Indonesia memiliki hamparan daerah rural yang sangat luas dan indah. Sebagian dari daerah rural tersebut menyimpan berbagai potensi pariwisata. Nah, beberapa daerah rural tersebut kemudian bertransformasi menjadi sebuah desa wisata. Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)

 

Komponen Utama Desa Wisata

Terdapat dua konsep yang utama dalam komponen desa wisata :
1. Akomodasi: sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.

  1. Atraksi: seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tari, bahasa  dan lain-lain yang spesifik.

Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach, hal. 166 memberikan definisi : Village Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment. Inskeep : Wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.

 

Pendekatan Pengembangan Desa Wisata

Pengembangan dari desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasar dari penelitian dan studi-studi dari UNDP/WTO dan beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata.

 

Pendekatan Pasar untuk Pengembangan Desa Wisata

 

Interaksi tidak langsung

Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos dan sebagainya.

 

Interaksi setengah langsung

Bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.

 

Interaksi Langsung

Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua. (UNDP and WTO. 1981. Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia. Madrid: World Tourism Organization. Hal. 69)

 

Kriteria Desa Wisata

Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria yaitu :

  1. Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa.
  2. Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak dari ibukota kabupaten.
  3. Besaran Desa; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
  4. Sistem kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada.
  5. Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.

Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.

 

Pendekatan Fisik Pengembangan Desa Wisata

Pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan sebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi.

  1. Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut. Contoh pendekatan dari tipe pengembangan model ini adalah Desa Wisata di Koanara, Flores. Desa wisata yang terletak di daerah wisata Gunung Kelimutu  ini mempunyai aset wisata budaya berupa rumah-rumah tinggal yang memiliki arsitektur yang khas. Dalam rangka mengkonservasi dan mempertahankan rumah-rumah tersebut, penduduk desa menempuh cara memuseumkan rumah tinggal penduduk yang masih ditinggali. Untuk mewadahi kegiatan wisata di daerah tersebut dibangun juga sarana wisata untuk wisatawan yang akan mendaki Gunung Kelimutu dengan fasilitas berstandar resor minimum dan kegiatan budaya lain.
  2. Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata. Contoh pendekatan pengembangan desa wisata jenis ini adalah Desa Wisata Sade, di Lombok.
  3. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah desa tersebut yang dioperasikan oleh penduduk desa tersebut sebagai industri skala kecil. Contoh dari bentuk pengembangan ini adalah Desa wisata Wolotopo di Flores. Aset wisata di daerah ini sangat beragam antara lain : kerajinan tenun ikat, tarian adat, rumah-rumah tradisional dan pemandangan ke arah laut. Wisata di daerah ini dikembangkan dengan membangun sebuah perkampungan skala kecil di dalam lingkungan Desa Wolotopo yang menghadap ke laut dengan atraksi-atraksi budaya yang unik. Fasilitas-fasilitas wisata ini dikelola sendiri oleh penduduk desa setempat. Fasilitas wisata berupa akomodasi bagi wisatawan, restaurant, kolam renang, peragaan tenun ikat, plaza, kebun dan dermaga perahu boat.

 

Prinsip dasar dari pengembangan desa wisata

Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanan di dalam atau dekat dengan desa.

  1. Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk desa, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki.
  2. Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu “sifat” budaya tradisional yang lekat pada suatu desa atau “sifat” atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut.

 

Jenis Wisatawan Pengunjung Desa Wisata

Karena bentuk wisata pedesaan yang khas maka diperlukan suatu segmen pasar tersendiri. Terdapat beberapa tipe wisatawan yang akan mengunjungi desa wisata ini yaitu :

 

Wisatawan Domestik

Wisatawan domestik ; terdapat tiga jenis pengunjung domestik yaitu :

  1. Wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal di daerah dekat desa tersebut. Motivasi kunjungan : mengunjungi kerabat, membeli hasil bumi atau barang-barang kerajinan. Pada perayaan tertentu, pengunjung tipe pertama ini akan memadati desa wisata tersebut.
  2. Wisatawan dari luar daerah (luar provinsi atau luar kota), yang transit atau lewat dengan motivasi, membeli hasil kerajinan setempat.
  3. Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalanan wisata ke daerah tertentu, dengan motivasi mengunjungi daerah pedesaaan penghasil kerajinan secara pribadi.

 

Wisatawan Manca Negara

Wisatawan yang suka berpetualang dan berminat khusus pada kehidupan dan kebudayaan di pedesaan. Umumnya wisatawan ini tidak ingin bertemu dengan wisatawan lainnya dan berusaha mengunjungi kampung dimana tidak begitu banyak wisatawan asing.

  1. Wisatawan yang pergi dalam grup (di dalam suatu biro perjalanan wisata). Pada umumnya mereka tidak tinggal lama di dalam kampung dan hanya tertarik pada hasil kerajinan setempat.
  2. Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup di dalam kampung dengan motivasi merasakan kehidupan di luar komunitas yang biasa dihadapinya.

 

Tipe Desa Wisata

Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya desa atau kampung wisata di Indonesia sendiri, terbagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka.

 

Tipe terstruktur (enclave)

Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut :

  1. Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional.
  2. Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini.
  3. Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang integratif dan terkoordinasi, sehingga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama untuk “menangkap” servis-servis dari hotel-hotel berbintang lima.

Contoh dari kawasan atau perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Nusa Dua, Bali dan beberapa kawasan wisata di Lombok. Pedesaan tersebut diakui sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga pada tingkat internasional. Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa.

 

Tipe Terbuka (spontaneus)

Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

 

Beberapa Desa Wisata di Indonesia

 

Desa Wae Rebo

Apakah sebelumnya kamu pernah dengar tentang Desa Adat Wae Rebo? Pasti baru dengar kan? Kedengarannya memang sangat asing di telinga, tapi ternyata desa ini sudah mendunia lho. karena semenjak UNESCO menobatkan sebagai desa yang melestarikan konservasi warisan budaya, masyarakat dunia mulai mengenal desa ini.

Wae Rebo adalah salah satu desa unik di kecamatan Satarnase, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. desa adat ini berada diatas ketinggian 1.100 mdpl, tepatnya di Pegunungan Pocoroko. karena letaknya yang sangat tinggi, tak heran kalau desa ini memiliki suhu udara yang dingin dan sejuk. untuk kamu yang ingin menyambangi desa ini, sebaiknya membawa baju hangat atau syal ya.

Di Desa Wae Rebo ini terdapat 7 rumah utama berbentuk kerucut dengan ketinggian dan diameter yang sama. Masing – masing rumah bisa di tinggali 6 sampai 8 keluarga dan berdiameter sekitar 12 – 15 meter. Mungkin karna bentuknya yang unik inilah UNESCO menobatkan desa ini sebagai bangunan konservasi warisan budaya.

Pemandangan di desa ini pun sungguh sangat indah. Rumah – rumah berbentuk kerucut yang menjadi ciri khasnya pun tersusun melingkar dan membentuk seperti setengah lingkaran. Panorama perbukitan di belakangnya menambah keindahan landscape Desa Wae Rebo.

 

Desa Adat Penglipuran

Desa Panglipuran yang berada di Kabupaten Bangli ini disebut – sebut sebagai desa paling bersih dan cantik di Pulau Bali. Menurut masyarakat sekitar, kata penglipiran diambil dari kata Pengeling Pura yang artinya tempat suci. Desa wisata ini memang memiliki luas yang tidak begitu besar, bahkan hanya memiliki luas 112 hektar dengan 9 hektar di pakai untuk pemukiman. Desa wisata panglipuran ini memiliki panorama alam yang masih asri dan kental akan budaya Bali yang masih dijaga.

Keunikan rumah – rumah berarsitektur Bali tampak tertata dengan rapi antara 1 rumah dengan rumah lainnya, pintu gerbang disetiap rumah saling berhadapan satu sama lainnya dan hanya dibatasi dengan jalan utama kecil di tengahnya. Pintu gerbang ini disebut dengan angkul – angkul (pintu gerbang khas bali).

Sejauh mata memandang yang terlihat hanya keindahan desa wisata tersebut. Dan yang lebih mengasyikan di desa ini adalah bebas dari kendaraan bermotor. Kamu bisa puas menikmati udara segar di desa ini. Kamu juga akan puas berjalan – jalan dan berfoto di desa ini sambil mengenal lebih dekat budaya warga setempat tanpa harus takut kena polusi asap. Biaya masuk ke desa wisata ini juga sangat terjangkau, yaitu Rp 7.500 per orangnya.

 

Desa  Suku Baduy

Kamu ingin mendapatkan pengalaman unik sekaligus berbeda dari liburan sebelumnya? Nih, desa Suku Baduy yang rekomend buat kamu  sambangi, Tepatnya ke Perkampungan Suku baduy. Suku Baduy merupakan suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Asal usul kata baduy yaitu berasal dari kata Badawi, yang di berikan dari seorang peneliti Belanda. Namun, warga setempat menyebutnya Baduy.

Suku baduy di bedakan menjadi dua, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Pintu masuk menuju pemukiman Suku Baduy adalah Desa Ciboleger. Jika ingin memotret pemukiman Suku baduy, kamu harus menyiapkan stamina lebih. Karena dari Desa Ciboleger kamu harus trakking terlebih dulu untuk menuju pemukiman Baduy Dalam, selama sekitar 5 jam perjalanan. Perjalannya memang akan sangat melelahkan, namun di sepanjang perjalanan kamu bisa menikmati udara sejuk dan panorama perbukitan yang memanjakan mata.

Sesampainya di pemukiman Baduy, kamu bisa melihat – lihat keunikan rumah – rumah Suku baduy yang terbuat dari bambu dan tertata dengan rapi. Sungai yang mengalir di pemukiman ini pun juga sungguh sangat jernih dan saat berada disana kamu tidak akan di perbolehkan untuk menggunakan shampo, sabun maupun bahan kimia lainya. Karena Suku Baduy sangat menghargai alam dan memperlakukan alam dengan baik.

Dari beberapa cabang sungai yang mereka gunakan sehari – harinya mereka hanya menggunakan satu sungai saja. Cabang sungai lain yang airnya jernih bisa di nikmati oleh masyarakat sekitar, juga bisa di gunakan para wisatawan yang datang. Hutannya juga masih sangat terjaga, masyarakat baduy selalu menjaga kebersihan dan tidak merusak hutan. Itulah mengapa sebabnya di pemukiman Suku Baduy ini masih terjaga keasriannya.

 

Desa Kete Kesu

Desa Kete Kesu berada di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalang Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa ini di tetapkan sebagai cagar budaya karena menjadi salah satu desa penghasil kerajinan pahat, ukir dan lukisan yang sudah diakui dunia. Yang menjadi ciri khas disini adalah terdapatnya Tongkonan yang berjejer rapi di sepanjang jalan.

Tongkonan adalah rumah adat /rumah panggung dari kayu, atapnya dilapisi ijuk hitam, bentuknya seperti perahu yang telungkup dengan buritan, seperti tanduk kerbau, dan harus di bangun menghadap ke arah utara, karena masyarakat disini percaya jika leluhurnya berasal dari bagian utara. Selain rumah Tongkonan, yang unik lainnya dari desa ini yaitu terdapat makam – makam tua yang menyimpan cerita mistis.

 

 

 Desa Trunyan

Desa Trunyan ini berada di Kabupaten Bangli, Bali. Jika desa – desa lainnya hanya menawarkan keindahan alam yang cantik untuk kamu ambil fotonya, namun desa ini berbeda. Trunyan memiliki keunikan sendiri yaitu desa ini memiliki sisi budaya yang unik.

desa ini memiliki kuburan di bagian timur Danau Batur. Di kuburan ini jenazah tidak dikuburkan, tapi jenazah hanya di biarkan saja di atas tanah sampai membusuk. yang anehnya lagi di sekitar kuburan ini tidak tercium bau bangkai. Serem ya? Tapi ini lah keunikan Trunyan.

namun selain keunikannya itu, desa trunyan juga memiliki pemandangan hijau yang sangat indah. sampai-sampai banyak  wisatawan domestik maupun mancanegara yang terus berdatangan ke desa ini.

 

 

 Desa Ketingan

Kalau kamu memiliki kecintaan pada hewan terutama burung, maka desa ini cocok untukmu. Di desa wisata ini, kamu bisa melihat ribuan burung Kuntul yang bersarang di puncak-puncak pohon. Burung-burung ini telah bertahun-tahun tinggal di Desa Ketingan bersama para warganya. Uniknya, burung-burung ini hanya ada di Desa Ketingan, padahal desa lain di sekitarnya juga memiliki pohon yang sama dengan Desa Ketingan. Selain bisa memperhatikan tingkah laku burung Kuntul, kamu juga bisa menikmati musik tradisional yang dibawakan dimainkan oleh para warga. Tak cukup itu, kamu bisa ikut melihat upacara syukuran sebelum penanaman padi atau disebut angler dan upacara Merti Bumi, upacara dalam rangka mensyukuri hasil bumi. Jika ingin memperhatikan tingkah laku burung Kuntul, datanglah pada waktu selain bulan September dan Oktober. Akan tetapi, jika kamu lebih tertarik pada upacara adat, datanglah di bulan September.

 

 Desa Panglipuran

Kalau selama ini kunjunganmu ke Bali hanya berkutat di Denpasar atau Ubud saja, coba kunjungi Desa Panglipuran di daerah Karangasem. Di desa ini, kamu bisa melihat arsitektur tradisional Bali yang tersusun rapi. Gerbang rumah beserta pura kecil di setiap rumah di desa ini memiliki bentuk yang sama persis dan saling berhadapan sehingga kamu bisa melihat keteraturan desa ini. Apalagi, suasananya didukung dengan latar belakang pemandangan yang sangat indah. Kalau kamu berniat mengunjungi desa wisata ini, sebaiknya kamu datang pada masa sebelum atau sesudah upacara Galungan.

 

 Desa Karangbanjar

Kalau kamu memiliki rencana berlibur bersama keluarga, kamu bisa mempertimbangkan Desa Wisata Karangbanjar. Di desa ini terdapat kolam pemandian yang cocok dinikmati bersama keluarga. Ada juga kolam pemancingan yang ikannya bisa langsung dimasak. Kamu dan keluarga juga bisa melihat pelbagai kerajinan tangan warga. Selain itu, kamu bisa belajar memainkan alat musik tradisional Jawa beserta tariannya. Desa ini juga menawarkan paket wisata yang bisa kamu pilih untuk mempermudah kunjunganmu.

 Desa Dieng Kulon

Ingin menikmati udara sejuk pegunungan sambil belajar membatik? Jika iya, Desa Wisata Dieng Kulon ini bisa menjadi pilihanmu. Di sini, kamu bisa belajar membatik, bahkan mengukir kayu, serta memainkan gamelan. Selain itu, keindahan alam desa ini tak perlu diragukan lagi. Kamu bisa menikmati trekking di Bukit Sinukir dan menikmati golden sunrise di atas puncaknya. Desa ini juga menawarkan wisata edukasi Museum Kailasa.

Kalau kamu ingin merasakan wisata sejarah, desa ini punya Situs Purbakala Dieng yang bisa kamu telusuri. Waktu yang direkomendasikan untukmu jika kamu ingin mengunjungi desa ini adalah saat upacara potong rambut gimbal berlangsung. Di Dieng, ada fenomena anak-anak yang terlahir dengan rambut gimbal. Diyakini dengan semakin banyak anak yang terlahir berambut gimbal, masyarakat Dieng semakin sejahtera. Maka dari itu, potong rambut anak gimbal ini dilakukan dengan ritual khusus.

 Kampung Naga

Kampung ini masih memegang erat tradisi Sunda. Kamu akan menemukan rumah-rumah tradisional Sunda serta struktur bangunan desa yang rapi. Di desa ini kamu bisa belajar kearifan budaya Sunda yang jarang kamu temui di kota-kota besar. Kamu bisa mencoba memainkan karinding dan alat musik Sunda lainnya. Saat musim tanam padi datang, warga akan memainkan alat musik karinding agar tanaman terhindar dari hama. Warga desa di sini pun masih menggunakan Bahasa Sunda yang halus. Hamparan sawah dan sungai yang melewati desa akan menjadi pemandangan yang memanjakan matamu. Selain itu, kamu bisa membeli kerajinan tangan warga desa seperti anyaman bambu dan gelang.

 

 

Kampung Inggris

Kalau kamu ingin mengisi liburanmu dengan kegiatan yang edukatif, kamu bisa mencoba tinggal di Kampung Inggris, Kediri. Kamu bisa belajar Bahasa Inggris dengan merasakan tinggal di kampung ini selama satu bulan atau bahkan lebih. Ada banyak program yang ditawarkan oleh penyedia kursus di kampung ini. Kamu bisa memilih pelbagai paket dari mulai satu bulan hingga tiga bulan tinggal di kampung ini. Kamu juga bisa memilih untuk tinggal di pondokan dengan sistem pesantren sehingga selain belajar Bahasa Inggris, kamu akan dibekali dengan pendidikan agama Islam. Kamu akan mengikuti jadwal kegiatan belajar layaknya pesantren. Kamu akan dilatih kedisiplinan bila mengikuti program di desa ini. Pelajaranmu akan terasa mudah karena sebagian besar warga desa akan menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Di kampung ini, kamu juga bisa menggunakan sepeda untuk berkeliling kampung yang asri.

 

 

Desa Wangunharja

Ingin mengunjungi desa wisata yang dekat dengan Jakarta? Di kabupaten Subang, 185 km dari Jakarta, ada Desa Wisata Wangunharja yang memiliki pemandangan alam yang indah. Keramahan masyarakatnya juga akan membuatmu betah berlama-lama di desa ini. Pada masa sesudah panen, kamu bisa melihat ritual Ruatan Bumi yaitu ritual yang diadakan dalam rangka bersyukur atas hasil panen.

 

 Kampung Bena

Jika kamu berencana untuk mengunjungi bagian timur Indonesia, kamu bisa mencoba mengunjungi Kampung Bena yang terletak di Kabupaten Nagada, Nusa Tenggara Timur. Di kampung ini kamu bisa melihat rumah tradisional Nusa Tenggara. Kamu juga bisa melihat situs-situs peninggalan zaman megalitikum. Uniknya, warga kampung ini memiliki tradisi untuk menguburkan jenazah di pekarangan rumah mereka. Semua keunikan kampung ini dibungkus dengan pemandangan indah dari Gunung Inerie.

 

Desa Tablanusu
Terbang jauh ke Indonesia bagian timur, kamu bisa mengunjungi Desa Tablanusu di Kabupaten Jayapura, Papua. Desa nelayan di pesisir Papua ini merupakan tempat koloni Jendral McArthur. McArthur adalah tentara Amerika Serikat yang berusaha melawan kekuatan Jepang saat Perang Dunia II. Jendral McArthur dan pasukannya diyakini mendarat pertama kali di desa ini. Kamu bisa menemukan peninggalan masa Perang Dunia II di desa ini. Meski kondisi peninggalan tersebut tidak terlalu terawat, akan tetapi kamu masih bisa melihat jejak-jejak sejarah yang ada di desa ini. Kamu juga bisa melihat rumah-rumah kayu khas Papua dengan pekarangan rumah yang terawat. Tak hanya itu, kamu bisa melihat Anggrek Papua yang langka. Menjelang matahari terbenam, kamu bisa menikmati pemandangan alam sambil bersantai di tepi pantai ditemani dengan es kelapa yang diambil langsung dari pohonnya.

 

 Desa Brayut

Brayut, Pendowoharjo, Kabupaten, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dikenal sebagai tempat destinasi wisata. Bahkan untuk dapat menginap di sana harus konfirmasi dua hingga tiga bulan sebelumnya.

Tentunya, ada keunikan dari Desa Wisata Brayut ini hingga banyak wisatawan datang berkunjung ke sana. Ini tak terlepas dari peran Sudarmadi selaku Ketua Desa Wisata Budaya Brayut, Pendowoharjo, Sleman.

Sudarmadi menjelaskan untuk menjadi desa wisata seperti saat ini memiliki proses yang panjang. Ia memulai langkah membuat desa wisata sejak tahun 1999. Menjadi desa wisata seperti saat ini perlu proses yang panjang. Terutama dalam membangun pola pikir warga untuk menjadi desa wisata.

“Awalnya tahun 1999, butuh waktu dua tahun lebih kondisikan warga supaya mereka siap menerima tamu. Sekarang ini warga sudah sadar betapa penting kebersihan keramahan keamanan dan sebagainya itu penting desa wisata. Perilaku itu mulai dulu jadi membangun perilaku bukan fisiknya,” ucap Sudarmadi di Sleman, Selasa, 13 September 2016.

Sudarmadi mengatakan saat ini warganya sudah memahami pentingya desa wisata. Selama ini desa ini sudah mendapat penghargaan sebagai desa wisata terbaik pada tahun 2011 sampai sekarang.