CURUG KAHYANGAN. Begitu kelas yoga rampung sekitar pukul 8 pagi, sebuah acara kuis diadakan untuk membagi-bagikan hadiah pada peserta Geo Tour. Sebagai materi kuisnya, sejumlah foto destinasi wisata di seantero negeri digunakan. Banyak foto yang saya tidak kenali. Saya harus lebih banyak berjalan-jalan di negeri saya sendiri, pikir saya. Pantas dari tadi beberapa anak-anak Baduy itu getol melihat-lihat gambarnya karena saya duga semua foto itu menunjukkan banyak hal yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Matahari yang mulai meninggi membuat udara makin gerah sehingga sebagian besar peserta pria berniat untuk segera mencelupkan tubuh ke sejuknya air sungai Baduy. Dan rupanya mereka sudah merancang suatu rencana yang tidak sempat saya ketahui.

Saya sendiri, karena ketidaktahuan saya, malah melangkahkan kaki menuju sungai yang kemarin sore saya kunjungi. Sungai itu amat lengang. Begitu lengang hingga saya memicingkan mata ke setiap sudut tersembunyi untuk memastikan apakah benar-benar tidak ada orang yang bersama saya di sana. Saya sempatkan menebar pandangan ke segala penjuru sebelum melucuti pakaian. Kaos saya sangkutkan di pucuk bambu di pinggir kali. Jam tangan saya lepaskan di bebatuan di bawahnya. Jaket saya gantungkan di dahan pohon yang roboh dan mulai melapuk. Dua lagi yang saya bisa lepaskan: celana dan rasa malu.

Tetapi sebelum Anda berfantasi, izinkan saya berkomentar bahwa ternyata pekerjaan aktor atau aktris film porno dan model pakaian renang atau pakaian dalam tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak terkira besarnya kepercayaan diri yang mesti dikumpulkan untuk bisa menanggalkan pakaian tanpa penyesalan.

Dan di sini saya tidak mau menyesal juga jika harus melewatkan kesempatan menikmati air sungai jernih yang melimpah ruah ini sendirian. Sebuah sungai yang detik itu, menit itu, dan sampai beberapa puluh menit kemudian, saya bisa monopoli untuk diri sendiri. Dan untuk memonopoli itu semua, saya tidak perlu mengeluarkan biaya.

Saya tidak mau membuang waktu. Sebelum ada orang lain, saya harus sudah memuaskan diri di sini. Saya pun mulai berjingkat di tepi sungai yang paling dangkal untuk mencicipi suhu airnya. Masih sejuk. Saya menengok ke atas, hanya terlihat daun-daun bambu yang melengkung, membentuk kanopi yang di sela-selanya masih memungkinkan berkas-berkas cahaya mentari jatuh hingga ke dasar sungai. Porsi sinar mataharinya yang sampai ke bawah terbilang pas sekali. Tidak begitu kebanyakan sampai terik, tidak begitu sedikit hingga tubuh menggigil.

Sebuah batu yang lebar terhampar di dasar sungai yang dangkal. Begitu lebar hingga saya dapat dengan nyaman merebahkan diri sepeti di sebuah ranjang raksasa, lalu di saat yang bersamaan saya membiarkan tubuh dialiri air sungai. Saya pejamkan mata lalu membiarkan tubuh dan pikiran istirahat sejenak dalam posisi savasana.

 

‘Perkampungan Baduy yang rapi dan bersih’

 

Sungguh seperti di kahyangan saja rasanya…

Saya ingin juga memuaskan diri dengan menjajal berenang di ceruk yang lebih dalam tepat di bawah jembatan. Namun, karena saat melangkah rasanya telapak kaki sakit sekali dihunjam bebatuan dalam berbagai ukuran di dasar kali, saya urungkan. Lagipula, saya ingatkan diri bahwa di sini tidak ada orang. Jika saya tidak bisa mengayuh ke tepian, bisa tamat riwayat saya.

Belum puas rasanya menikmati air sungai sejernih ini sendirian, saya teruskan menggosok tubuh dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Saya hembuskan ingus keluar, berkumur-kumur, seolah ingin mengeluarkan segala kotoran yang ada saat itu juga.

Begitu saya mulai merasa menggigil, saya putuskan untuk menepi dan mengeringkan tubuh sesegera mungkin. Saya tidak mau mengakhiri liburan dengan sakit.

Entah berapa lama saya sudah di sana. Saya bahkan tidak terpikir untuk mengukur waktunya dengan menilik jam tangan. Pokoknya saya sudah puas. Itu yang terpenting rasanya saat itu.

Saya bergegas berpakaian kembali dan berkemas ke rumah tempat saya menempatkan tas. Beberapa saat kemudian saat saya duduk santai merenungi pengalaman mandi yang tiada tertandingi tadi, lewatlah rombongan teman-teman pria yang tadi ternyata antusias ingin menikmati sebuah curug (air terjun) yang disebut Curug Kahyangan.

Anehnya, mereka kembali dalam keadaan masih berkeringat dan kering kerontang. Usut punya usut, curug yang diklaim indah dan permai itu baru mengalami musibah kekeringan akut. Alhasil, debit airnya menipis hingga hanya sanggup “membasuh sandal dan telapak kaki”, demikian pengakuan seorang teman yang begitu kecewa.

Tiba-tiba saya merasa beruntung bisa mandi dengan bebas tadi. Tiba-tiba terbetik pemahaman bahwa saya tadi memiliki sebuah curug pribadi.

BINTANG. Dengan tirai raksasanya, malam mulai membungkus perkampungan Baduy di Cibeo. Badan kami terasa luluh lantak semuanya setelah menjalani rute trekking yang berat bagi kebanyakan kami. Beberapa orang yang tersisa di belakang masih tidak kuasa melangkah jauh-jauh dari rumah sebab kaki pegalnya bukan kepalang. Saya yang ada di garda depan dan memanggul bawaan sendiri sudah mulai bisa melepas penat selama perjalanan seharian. Mungkin ini berkat air kali yang sejuk itu. Jadi teringat sebuah film yang jagoan-jagoannya begitu rampung bertarung lalu pulang ke markas dan berendam tanpa sehelai benang di bak mandi berisikan air es. Itu rupanya cara efektif nan alami untuk merestorasi kondisi fisik yang baru saja diperas habis-habisan, pikir saya.

Kami pun dijamu dengan keramahan luar biasa. Keluarga yang menjadi tuan rumah bagi rombongan mempersilakan kami makan dahulu. Menunya sederhana dan bersahaja:sayur sop, teri goreng, nasi putih dan sambal cabai hijau yang nikmat. Harry membawa menu cadangan berupa abon cakalang dan abon sapi. Dugaan saya menu-menu cadangan itu untuk berjaga-jaga jikalau menu yang ada tak sesuai dengan lidah.

Saya suka terinya. Dan baru menyadari keesokan harinya bahwa tak semestinya saya makan menu itu secara liberal. Suara saya serak dan hampir hilang selama berhari-hari setelahnya.

Setelah makan, saya kebingungan mencari minum. Gelas-gelas bambu itu sudah dipakai semua orang. Lalu Harry menawari saya gelas yang dipakainya. Dan saya berseloroh,”Tadi kamu minum dari sebelah mana?” sambil mata saya pura-pura arahkan ke sekeliling bibir gelas sebelum meneguk air putih dari botol kaca berukuran besar yang dipakai menampung air minum. Kami tergelak. Di saat seperti ini, rasanya sudah tidak mungkin memikirkan standar higienis modern yang kami biasa terapkan. Saya teguk saja air dari gelas itu tanpa ingin tahu jawaban Harry.

Ada yang aneh dari rasa air putih yang saya teguk. Saya berkali-kali meneguknya untuk memastikan bahwa saya minum air putih, bukan kopi. Mungkin saja ini bekas minuman sebelumnya, karena saya baru ingat mereka tak memakai sabun apapun di kampung ini. Jadi, kemungkinan besar ada yang meminum kopi sebelumnya. Dan rasa itu terus melekati permukaan gelas bambu itu.

Kemudian kami berkumpul di beranda dua rumah yang kami inapi dan kebetulan berhadap-hadapan. Anggap saja ini sebuah acara “Saturday Night Live”. Seorang bintang tamu istimewa yang akan diwawancara hingga tuntas sampai audiens puas dihadirkan. Seorang pembawa acara bercakap-cakap menguras deposit informasi menarik dalam benak pembicara.

Bedanya malam itu, semua orang dalam rombongan kami adalah bintang tamunya. Dan satu persatu harus menjawab pertanyaan “pengalaman apa yang paling berkesan selama melakukan perjalanan?” dan “apa yang paling berkesan selama dalam perjalanan ke perkampungan Baduy ini?”

Dan karena kampung ini tak dialiri listrik sama sekali, kami hanya bisa menerangi diri dengan lilin-lilin elektrik dengan baterai. Satu persatu kami membagikan cerita. Sembari mendengarkan, pandangan saya arahkan tidak ke sumber suara tetapi malah lebih banyak ke angkasa raya. Pemandangan malam itu langka sekali saya bisa nikmati. Bintang-bintang seperti butiran kristal swarovski yang ditebarkan secara acak di permukaan kain beludru hitam yang maha lebar. Suatu kemewahan yang tidak bisa dibeli orang-orang di kota-kota yang sudah dialiri listrik.

 

‘Seorang wanita Baduy Luar sedang menenun di rumahnya’

 

Dari cerita-cerita itu, saya bisa simpulkan rombongan kami terdiri dari berbagai jenis pengelana. Ada yang sudah menjelajah ke mana-mana di dalam negeri sendiri seperti Didi, ada pula yang sudah menjejakkan kaki berkali-kali ke negeri manca. Ada pula yang baru ke daerah-daerah yang dekat dan familiar serta populer bagi kebanyakan orang, seperti saya.

Sebuah cerita perjalanan menarik menurut saya sendiri tidak perlu jauh dan berbiaya mahal. Asal kita setelahnya membawa pulang ‘oleh-oleh’ yang tidak ternilai harganya. Bukan oleh-oleh yang selama ini bisa peroleh di toko-toko suvenir atau makanan khas lokal (meskipun itu juga tak kalah menggoda) tetapi oleh-oleh yang berupa pelajaran dan hikmah atau pengetahuan yang baru yang kita bisa simpan lalu amalkan dalam kehidupan dan bisa kita pakai untuk memperkaya makna kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Seperti apa yang dialami oleh Didi dalam perjalanannya ke sebuah pulau yang bernama Benggala yang ternyata adalah pulau yang berlokasi di titik paling barat nusantara. Sementara itu, ada lagi pulau terluar di barat, yang kata Didi ialah pulau Rondo. Dari pengalaman perjalanannya itu, Didi mendapatkan sebuah pemahaman yang membuka mata atas asumsi keliru bahwa Sabang atau Pulau We ialah titik terluar di barat Indonesia. Didi menjelaskan Pulau Benggala memang tak banyak dikenal orang karena tidak sembarang orang bisa memasukinya. Konon tersimpan cadangan minyak yang tidak sedikit di sini dan TNI membangun pertahanan di sini agar negara-negara lain tidak begitu saja mengklaimnya sebagai wilayah mereka. Jadi, jangan berharap bisa sembarang orang singgah lalu berwisata hura-hura di pulau Bengal itu. Didi saja harus mengantongi perizinan yang rumit dan berliku untuk bisa masuk ke dalamnya, baik dari pihak kampus tempat studinya sendiri serta pendekatan khusus dengan pihak TNI yang berpangkalan di sana.

Sesi berbagi pengalaman ini menjadi momen refleksi yang jarang ditemui di perjalanan-perjalanan biasa. Sejauh pengetahuan saya orang-orang yang mengunjungi dan menyinggahi kampung Baduy Dalam ini tidak banyak yang tertarik untuk melakukan interaksi atau menggali lebih dalam mengenai kehidupan suku yang mengasingkan diri dari peradaban modern. Mereka menganggap kampung ini sebagai sebuah resor atau penginapan yang aman, sentosa dan damai sehingga datang, makan, menikmati alam, lalu beristirahat dan esoknya meninggalkan kampung itu cepat-cepat sebab sudah tak betah tidak bisa memakai ponsel, tidak bisa menggosok badan dengan sabun, menggosok gigi dengan pasta gigi, mandi dan buang air di toilet yang tertutup rapat dan menikmati segala aktivitas yang hanya bisa dijumpai di ibukota.

Sesi itu kami akhiri segera karena sejatinya sudah banyak yang mengeluh mengantuk karena kecapaian sepanjang hari. Ditambah dengan kurang tidur di malam sebelumnya karena berangkat pukul 3 pagi dan hanya bisa ‘tidur ayam’ di perjalanan darat yang medannya relatif menantang, kami sudah ingin meluruskan punggung dan kaki saja secepatnya.

Secara sembunyi-sembunyi saya lirik ponsel yang saya telah atur ke moda pesawat dan hening sejak kemarin sore. Layarnya menyala. Sudah pukul 21.15 rupanya. (Bersambung)

 

*Penulis: Akhlis Purnomo

Photo courtesy: Harry Angie Tampubolon

Tags :