TANJAKAN CINTA. Tiap tanjakan membuat jantung saya bekerja lebih keras. Pemandu kami, Teguh, mengatakan akan ada “Tanjakan Cinta” yang tiada ampun sudut kemiringannya. Ia berusaha menyiapkan mental kami rupanya. Saya sendiri tidak ingin berceletuk untuk memberikan komentar dan keluhan. Sebab semakin banyak berkomentar, makin terasa berat. “Terus saja jalan!” hardik saya pada diri sendiri.

Matahari siang makin condong ke barat tetapi teriknya sungguh di luar dugaan. Aktivitas fisik yang intens ini ditambah sengatan matahari membuat tenaga saya terasa terperas habis-habisan. Napas tersengal. Baju sudah kuyup.

Tanjakan demi tanjakan terlewati. Hingga saya tiba juga di tanjakan maut itu. Tidak salah jika ia dinamai Tanjakan Cinta sebab saat siapa saja menaikinya dengan kedua kaki (memang hanya kaki saja yang bisa menempuhnya, tidak ada kendaraan atau alat lain yang bisa), jantung akan berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta tetapi karena jantung diinstruksikan untuk memompa darah semaksimal mungkin ke seluruh tubuh untuk memberi tenaga pada tubuh agar sampai di atas tanjakan. Ditambah dengan adrenalin yang terpicu karena rasa cemas jika terpeleset atau pijakan kami runtuh atau pikiran-pikiran buruk lain (pingsan atau lemas mendadak di tengah tanjakan, misalnya), pendakian Tanjakan Cinta seakan menjadi puncak perjuangan trekking setengah hari ini.

Dalam kondisi semacam itu memang semestinya terus memfokuskan diri pada apa yang harus dijalani. Bukan malah berpikir yang tidak-tidak. Memberikan ruang bagi pikiran yang negatif untuk berkembang malah menyurutkan semangat dan membuat kita mudah menyerah. Jadi, saya terus mendaki saja dengan tas punggung yang lumayan berat dan mat yoga yang saya harus bawa di salah satu tangan. Satu tangan yang lain akan saya tugasi meraih apapun yang bisa saya genggam jika terpeleset. Lagipula saya tidak mendaki sendirian. Di bawah masih ada teman yang bisa menolong saya.

Matahari tidak memudarkan pancarannya. Saya memandang ke tanah yang saya pijak hanya untuk menyaksikan keringat ini menetes dari dahi langsung ke tanah, seperti tetesan air hujan.

Saya terus mendaki. Otot-otot kedua tungkai saya terus berdenyut. Lalu saya entah bagaimana bisa mendengarkan denyut jantung saya sendiri di telinga. Ini sungguh menakutkan. Rasanya jantung saya hampir meletus. Jika cinta bisa membuat hati meletus karena lika-likunya yang tiada bisa ditebak makhluk yang fana seperti manusia, tanjakan satu ini saya pikir bisa sungguh-sungguh membuat jantung saya meletus juga. Dan meletus di sini yang saya maksudkan benar-benar meletus karena dipaksa memompa darah sekencang mungkin. Saya terus mendaki dengan berhati-hati. Lengah sedikit, bisa berakibat panjang.

 

‘Salah satu aliran sungai di Baduy; Sungai Ciujung’

 

Entah ada berapa jumlah pijakan tanah yang ada di Tanjakan Cinta itu. Tetapi jumlahnya rasanya banyak  dan merayap panjang ke atas. Saya terus mendaki dengan segenap kekuatan yang tersisa. Niscaya habis ini napas seketika.

Sampai di atas tanjakan, saya hanya bisa bernapas lega. Beberapa teman yang berhasil naik juga dalam waktu yang kurang lebih bersamaan dengan saya berjuang mendapatkan napas mereka kembali. Wajah mereka sudah merona tidak karuan, gradasi antara kecokelatan tertimpa sinar matahari dan keringat yang membuat kulit berkilauan dengan semburat merah karena derasnya darah mengalir ke seluruh penjuru tubuh untuk menyuplai oksigen.

Kami sibuk mencari tempat untuk beristirahat begitu kami tahu masih ada rombongan lain yang juga sedang mencari hawa sejuk dan rehat sejenak di atas bukit. Sebuah pondok berdiri di tempat itu dan menjadi pit stop bagi kami yang ‘sekarat’ ini.

Sementara itu, anak-anak Baduy tadi hanya berdiri tegak sambil tetap memanggul bawaan orang-orang kota yang tak biasa mengeluarkan banyak tenaga. Mereka memang masih berkeringat dan sedikit lelah tetapi tidak banyak ekspresi yang terpasang di mimik muka. Semua sudah begitu biasa bagi mereka.

“Aceng, duduk!” imbau salah satu dari kami padanya. Yang dipanggil diam saja, seraya melempar pandang sejauh hamparan di bukit-bukit yang ada di bumi Lebak, provinsi Banten ini. Berdiri diam di bawah lindungan pohon besar sudah bermakna istirahat baginya. Tak perlu duduk lalu meluruskan kaki, mengipasi badan, atau membeli minuman dingin.

Tanjakan Cinta resmi saya taklukkan.

 

YOGA. Hari pertama pukul 11-12 siang kami melakukan yoga di dekat sungai yang dilintasi sebuah jembatan bambu yang didirikan dengan rancangan yang tiada duanya. Jembatan bambu Gajeboh ini adalah sekumpulan bambu yang disatukan dengan tekun dan teliti memakai tali ijuk pohon aren. Ia membentang sekitar 20 meter menyatukan dua tepi sungai Ciujung. Konon konstruksi ini dibangun dengan gotong royong warga Baduy Luar.

Tidak ada logam apalagi paku dan baut serta mur untuk saling menggabungkan elemen-elemennya. Hanya elemen-elemen organik dari alam yang ada. Selain bambu, pengikatnya hanya serabut berwarna hitam yang juga dipakai sebagai atap rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga berbentuk tali yang besar dan kokoh. Para pelintas jembatan yang baru pertama kali pastinya merasa miris tetapi saya pikir itu karena kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menapak di beton yang diam dan kokoh sehingga saat menyadari bambu yang mereka injak berayun-ayun, mereka panik, seakan tidak percaya dengan kekokohan desain dengan material alami ini. Padahal alam itu dapat diandalkan lebih daripada yang kita kira.

Matras-matras yoga berwarna-warni digelar di salah satu tepi sungai yang disatukan jembatan tersebut. Saya di tengah dengan pandangan menghadap ke aliran sungai yang gemericiknya terdengar lirih tersamar keriuhan suara para wisatawan lokal di akhir pekan seperti sekarang. Keramaian memuncak di hari Sabtu dan Minggu sehingga membuat perkampungan menjadi lebih hingar bingar.

Karena baru saja kami melalui jalur trekking yang begitu menantang, fokus latihan pun saya berikan pada area bahu, leher, punggung, sepanjang tulang belakang dan seluruh daerah pinggul yang mendapatkan tekanan dari beban-beban berupa barang bawaan dan tas-tas berat.

 

‘Peserta antusias mengikuti yoga by the river’

 

Kami berangkat lagi dari perkampungan Baduy Luar setelah makan siang serta salat zuhur. Pukul 1 siang, kami pun melangkahkan kaki untuk melanjutkan kembali perjalanan yang ternyata masih jauh. Beberapa gambar masih bisa diambil di titik ini karena meskipun kami sudah masuk ke perkampungan Baduy, ini baru wilayah Baduy Luar, yang dikenal lebih terbuka dan lebih moderat dalam menyambut pengunjung luar. Penggunaan alat-alat komunikasi dan elektronik masih diperkenankan. Meski demikian, saya enggan juga menyentuh alat-alat simbol keterhubungan – dan keterikatan – dengan dunia modern. Saya ingin menenggelamkan diri dalam kehidupan mereka tanpa komunikasi virtual dan digital. Setidaknya dalam 2 hari ini. Diet digital ini ampuh untuk mengurangi tingkat ketergantungan manusia modern perkotaan yang kerap cemas dan merasa tidak berdaya tanpa gawai-gawainya. Saya ingin memberikan gawai itu pada porsinya kembali, bahwa mereka tidak bisa menentukan suasana hati saya. Bahwa perangkat-perangkat itu hanyalah kepanjangan dari diri saya, bukan bagian dari diri saya. Jadi, jika saya tidak memakainya, saya masih merasa utuh, tidak merasa ada yang kurang dan perlu untuk dilengkapi.

Beryoga di tepi sungai seperti ini menyuguhkan suatu sensasi berbeda dari beryoga di studio bahkan di taman kota sebagaimana yang saya kerap lakukan di Jakarta. Perbedaan itu begitu subtil, halus, sampai saya kehilangan kemampuan untuk menggambarkannya dengan kata-kata yang tertata. Yang pasti, inilah bedanya beraktivitas di tengah lansekap yang sudah penuh rekayasa dan lansekap yang relatif masih terjaga kemurniannya dari intervensi manusia.

Keesokan paginya latihan yoga bersama kami adakan juga di halaman antarrumah yang sebetulnya tidak seberapa lapang. Permukaan sebidang tanah mungil itu lebih rata dan kering dibandingkan halaman yang lebih luas tetapi permukaannya lebih penuh bebatuan dan basah.

Beryoga di ruang terbuka semacam ini memang memerlukan konsentrasi ekstra agar pikiran bisa lebih terfokus. Begitu banyak potensi distraksi, yang jika dipikir-pikir akan menjadi tantangan tersendiri.

Kelas kami pagi itu mulanya berlangsung khidmat. Kami memulai dengan pikiran yang tenang. Saya sendiri harus menempatkan diri di beranda sebuah rumah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya, seolah membuat saya memiliki sebuah panggung khusus untuk melakukan demonstrasi yoga. Ian, seorang peserta, saya daulat sebagai peraga juga.

Semua berjalan lancar tanpa kendala…

Hingga sekonyong-konyong entah dari arah mana seekor ayam jantan merangsek masuk ke tengah para peserta yang sedang asyik masyuk melakukan yoga. Belum cukup, seekor ayam jantan lainnya mengikuti temannya (atau lawannya?) lalu bertarung sengit di tengah-tengah halaman, seakan tidak peduli ada sejumlah peserta yang kalang kabut dan panik tidak tertahankan karena ketakutan terkena taji dan patukan.

Menyaksikan insiden itu, saya sempat kebingungan apakah harus tertawa menikmati ini semua atau mengusir dengan keji kedua satwa yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dan sebelum kelas yoga saya kocar-kacir dan bubar sebelum waktunya, untunglah ayam-ayam jantan itu sudah berpindah dari arena persabungan yang tidak sepatutnya. (bersambung)

 

*Penulis: Akhlis Purnomo

Photo courtesy: Harry Angie Tampubolon

Tags :